Perkembangan Ejaan Bahasa Indonesia
2.3.1 Ejaan Van Ophuysen
a. Kapankah Ejaan Van Ophuysen mulai berlaku?
Ejaan Van Ophuysen ditetapkan pada tahun 1901 dan
diterbitkan dalam sebuah buku Kitab Logat Melajoe. Sejak ditetapkannya itu,
Ejaan Van Ophuysen pun dinyatakan berlaku. Sesuai dengan namanya ejaan itu
disusun oleh Ch.A.Van Ophuysen, yang dibantu oleh Engku Nawawi gelar Soetan
Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Sebelum Ejaan Van Ophuysen disusun
para penulis pada umumnya mempunyai aturan sendiri-sendiri dalam menuliskan
konsonan, vokal, kata, kalimat, dan tanda baca. Oleh karena itu, sistem ejaan
yang digunakan pada waktu itu sangat beragam. Terbitnya Ejaan Van Ophuysen
sedikit banyak mengurangi kekacauan ejaan yang terjadi pada masa itu.
b. Hal-hal yang menonjol dalam Ejaan Van Ophuysen?
Beberapa hal yang cukup menonjol dalam Ejaan Van Ophuysen
antara lain sebagai berikut :
1. Huruf y ditulis dengan j
Misalnya :
Sayang : Sajang
Yakin : Jakin
Saya : Saja
2. Huruf u ditulis dengan oe
Misalnya :
Umum : Oemoem
Sempurna : Sempoerna
3. Huruf k pada akhir kata atau suku kata ditulis dengan
tanda koma diatas
Misalnya :
Rakyat : Ra’yat
Bapak : Bapa’
Rusak : Rusa’
4. Huruf j ditulis dengan dj
Misalnya :
Jakarta : Djakarta
Raja : Radja
Jalan : Djalan
5. Huruf c ditulis dengan tj
Misalnya :
Pacar : Patjar
Cara : Tjara
Curang : Tjurang
6. Gabungan konsonan kh ditulis dengan ch
Misalnya :
Khawatir : Chawatir
Akhir : Achir
Makhluk : Machloe’
2.3.2 Ejaan Republik( Ejaan soewandi )
a. Apakah yang dimaksud dengan Ejaan Republik?
Ejaan Republik ialah ejaan baru yang disusun oleh Mr.
Soewandi. Penyusunan ejaan baru dimaksudkan untuk menyempurnakan ejaan yang
berlaku sebelumnya yaitu Ejaan Van Ophuysen juga untuk menyederhanakan sistem
ejaan bahasa Indonesia. Pada tanggal 19 Maret 1947, setelah selesai disusun
ejaan baru itu diresmikan dan ditetapkan berdasarkan surat keputusan menteri
pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 264/Bhg.A,
tanggal 19 Maret 1947. ejaan baru itu diresmikan dengan nama Ejaan Republik.
b. Mengapa Ejaan Republik sering disebut Ejaan Soewandi?
Ejaan Repubik lazim disebut Ejaan Soewandi karena nama itu
disesuaikan dengan nama orang yang memprakarsainya. Seperti kita ketahui,
Soewandi merupakan nama Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan ketika
ejaan itu disusun oleh karena itu, kiranya wajar jika ejaan yang disusunnya
juga dikenal sebagai Ejaan Soewandi.
c. Apakah Perbedaan Ejaan Republik dan Ejaan Van Ophuysen?
Beberapa perbedaan yang tampak mencolok dalam kedua ejaan iu
dapat diperhatikan dalam uraian di bawah ini :
1. Gabungan huruf oe dalam Ejaan Van Ophuysen diganti dengan
u dalam Ejaan Republik
2. Bunyi hamzah (‘) dalam Ejaan Van Ophuysen diganti dengan
k dalam Ejaan Republik
3. Kata ulang boleh ditandai dengan angka dua dalam Ejaan
Republik
4. Huruf e taling dan pepet dalam Ejaan Republik tidak
dibedakan
5. Tanda trema (“) dalam Ejaan Van Ophuysen dihilangkan
dalam Ejaan Republik
Agar perbedaan kedua ejaan itu menjadi lebih jelas, di bawah
ini diberikan beberapa contoh antara lain sbb :
Ejaan Van Ophuysen Ejaan Republik
Oemoer Umur
Ma’loem Maklum
Rata-rata Rata-rata, rata2
ẽkor ekor
Hal ini yang dapat diamati dalam Ejaan Republik ialah
digunakan e pepet sebagai bunyi pelancar kata khususnya pada kata-kata baru
yang asalnya tidak menggunakan e pepet misalnya :
Ejaan yang benar Ejaan yang salah
Kritik Keritik
Pabrik Paberik
Praktik Peraktik
Meskipun dimaksudkan untuk menyempurnakan ejaan yang berlaku
seelumnya, Ejaan Republik ternyata masih memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan
itu antara lain karena huruf-huruf seperti F,V,X,Y,Z,SJ(Sy) dan Ch(Kh) yang
lazim digunakan untuk menulis kata-kata asing tidak dibicarakan dalam ejaan
baru itu. Padahal, huruf-huruf tersebut pada masa itu masih merupakan
permasalahan dalam bahasa Indonesia.
2.3.3 Ejaan Pembaharuan
a. Apakah Ejaan Pembaharua itu?
Ejaan pembaharuan merupakan suatu yang direncanakan untuk
memperbaharui Ejaan Republik.Di bentuk pada tanggal 19 juli 1956.Konsep Ejaan
pembaharuan dikenal dengan ejaan Prijono-Katoppo,sebuah nama yang di ambil dari
dua nama tokoh yang pernah mengetuai panitia ejaan itu. Awalnya profesor
Prijono yang mengetuai panitia itu, lalu menyerahkan kepemimpinannya kepada
E.Katoppo karena masa itu Profesor Prijono di angkat menjadi Menteri
Pendidikan,Pengajaran dan Kebudayaan sehingga tidak sempat lagi melanjutkan
tugasnya sebagai ketua panitia ejaan kemudian dilanjutkan oleh E.Katoppo.
b. Hal-hal Apakah yang menarik dalam Ejaan Pembahuruan?
Konsep Ejaan Pembaharuan yang menarik ialah di
sederhanakannya huruf-huruf yang berupa gabungan konsonan dengan huruf huruf
tunggal.Atau bersifat fonemis artinya setiap fonem dalam ejaan itu di usahakan
hanya di lambangkan dengan satu huruf.
Tampak seperti contoh di bawah ini :
1. Gabungan konsonan dj di ubah menjadi j
2. Gabungan konsonan tj di ubah menjadi ts
3. Gabungan konsonan ng di ubah menjadi ŋ
4. Gabungan konsonan nj di ubah menjadi ñ
5. Gabungan konsonan sj di ubah menjadi š
Gunakan vokal ai, au dan oi(di sebut diftong) di tulis
berdasarkan pelafalannya yaitu ay, aw, dan oy.
Misal : satai → satay
Harimau → harimaw
Amboi → amboy
Serta huruf j, seperti pada kata jang di ubah menjadi y
sesuai dengan ejaan Bahasa Indonesia.
2.3.4 Ejaan Melindo
a. Apakah yang di maksud dengan ejaan melindo?
Melindo ialah akronim dari Melayu-Indonesia.Merupakan ejaan
yang di susun atas kerja sama antara pihak Indonesia Slamet Muljana dan pihak
Persekutuan Tanah Melayu (malaysia) di pimpin oleh Syed Nasir bin Ismail.Yang
tergabung dalam Panitia Kerja Sama Bahasa Melayu-Bahasa Indonesia.Tahun 1959
berhasil merumuskan ejaan yaitu ejaan Melindo.
Awalnya Ejaan Melindo di maksudkan untuk menyeragamkan ejaan
yang di gunakan di kedua negara tersebut.Namun karena pada masa itu terjadi
ketegangan politik antara Indonesia dan malaysia, Ejaan itupun akhirnya gagal
diresmikan.Sebagai akibatnya pemberlakuaan ejaan itu tidak pernah di umumkan.
sumber:http://ejaanindonesia.blogspot.com/
hafiz
npm 201343500422
0 komentar:
Posting Komentar